Kunjungan Kerja Gubernur Kaltim ke Kaubun

Cuplikan Berita Kaltimpost
Selama perjalanan, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Awang Faroek Ishak terus memonitor perkembangan infrastruktur di wilayah yang telah dan akan dilalui. Para penggawa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kaltim yang ikut, sibuk memberikan jawaban.

RABU pagi (11/7), lepas dari kunjungan kerja (kunker) di Kutai Timur (Kutim), rombongan mobil yang berjumlah 76 unit kendaraan itu bergerak ke Berau. Kabupaten keempat yang akan menjadi tujuan Faroek beserta rombongan. Masih di jalan poros Sangatta-Berau, hujan mengguyur. Hujan yang cukup deras.

Kondisi ini jelas tak diinginkan mereka yang berkendara di jalur tersebut (poros Sangatta – Berau). Maklum, jalan poros Sangatta-Berau hingga kini kondisinya masih memprihatinkan. Aspal memang tersaji, namun bikin penumpang mobil serasa “berjoget dangdut”. Lubang masih menghiasi.

Rombongan lantas berhenti. Faroek turun dari Land Cruiser-nya. Diiringi rombongan Dinas Pekerjaan Umum (PU), Gubernur melihat progress pekerjaan perbaikan longsor di sebuah titik sebelum memasuki Kecamatan Kaliorang, Kutim. Longsor yang cukup panjang di sisi kanan jalan. Dijanjikan, longsor tersebut akan beres dalam waktu tiga bulan.

Rintik air telah berhenti membasahi bumi. Namun, awan hitam menggelantung di cakrawala. Kabut menutupi puncak perbukitan. Belum lepas dari bumi Kutim, aspal lambat-laun makin menghilang. Berganti butiran kerikil bercampur tanah. Kondisi yang kontras mengingat Kutim menjadi basis salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di dunia.

Sebelum memasuki Kecamatan Sangkulirang, Kutim, didapati aktivitas crossing batu bara. Ada dua crossing yang dimanfaatkan tiga perusahaan tambang. Disebut aktivitas ini seharusnya tak boleh dilakukan.

“Sudah ada izin. Namun seharusnya untuk perusahaan yang melakukan crossing dalam prosesnya wajib membuat jalur sendiri. bisa underpass atau flyover. Untuk teknisnya itu kewenangan PU,” ujar Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kaltim, Amrullah.

Jalan masih tanah dan waktu terus berlalu hingga memasuki Kecamatan Kaubun. Kecamatan ini merupakan eks daerah permukiman transmigrasi yang dibuka pemerintah pusat pada 1988 silam. Kelapa sawit kini merajai wilayah ini setelah komoditas kelapa hibrida seluas 26 ribu hektare “pensiun” sejak 1986.

“Masyarakat di sini hampir seluruhnya bekerja di kelapa sawit. Namun hanya sampingan. Rata-rata masih menggantungkan hidup dari pertanian seperti padi. Yang masih jadi persoalan yakni jalan saja. Soalnya kalau hujan susah dilewati. Belum lagi di sini susah bensin. Satu botolnya Rp 10 ribu,” terang seorang warga Kaubun.

Di kecamatan ini, Faroek melakukan panen perdana kelapa sawit milik PT Gupta Samba Grup. Dalam sambutannya, ia meyakinkan masyarakat jika kelapa sawit merupakan komoditas unggul. Mengalahkan kejayaan batu bara. Dikatakannya, jumlah perusahaan kelapa sawit di daerah itu saat ini mencapai lebih 200 buah dan 42 pabrik CPO (Crude Palm Oil).
Faroek pun optimistis bahwa target satu juta hektare kelapa sawit akan segera terpenuhi. “Saat ini kita tidak bisa lagi mengandalkan batu bara, minyak, dan gas. Sudah waktunya kita membuat lokomotif baru melalui pengembangan sektor pertanian dan perkebunan, khususnya kelapa sawit,” ujarnya.

Lepas seremoni, perjalanan dilanjutkan. Panas terik matahari mengawal perjalanan. Tanah becek berganti debu. Menghambur ke rumah warga setempat. Membuat murid SD yang pulang sekolah membungkuk, menutup wajah mereka.

Di sini, rombongan lantas menyeberang sungai di Kecamatan Karangan menuju Karangan Dalam. Tiga kapal disiapkan. Salah satunya jenis landing craft tank (LCT).

Dari atas LCT, kedigdayaan kayu masih terasa kuat. Tumpukan kayu gelondongan terlihat bertumpuk di salah satu dermaga Karangan Dalam. Belum lagi saat tiga mobil awak media tersesat hampir sejam di tengah padang sawit dan hutan. Pemandangan miris akan hilangnya hutan Kaltim.

Tiga jam lebih menyusuri padang sawit dan belantara hutan. Guncangan dan suara derik batu tiba-tiba menghilang.Eh, jalan aspal mulus tersaji di pintu masuk Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Talisayan.

Di tengah perjalanan menuju Kecamatan Talisayan, Berau, sebuah kabar duka datang. Seorang peserta rombongan, Sayid Abdurahman –pengurus dari Kalima Plus– dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung.

Rasa kaget belum hilang, kabar tak menyenangkan lainnya kembali datang. Mobil Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) terguling, sekitar pukul 15.00 Wita. Mobil anyar KT 8220 XA itu ringsek karena terguling dua kali. Tiga pegawai Dispora mengalami luka. Ketiganya dibawa ke RS Abdul Rifai, Tanjung Redeb, Berau.(*/rdh/zal)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s