Benih palsu banyak beredar di Kaubun, UPTD Peredaran Benih Perkebunan Kaltim adakan Sosialisasi Legalitas Benih.

Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Timur umumnya dan Kabupaten Kutai Timur pada khususnya yang bertumpu pada sektor Agribisnis telah menyebabkan kemajuan pesat pada sektor perkebunan khususnya Perkebunan Kelapa Sawit.Menurut Syamsu Irsal, Kepala UPTD Peredaran Benih Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim, dari 820 ribuhektar kebun sawit yang ada diseluruh Kaltim dari target 1 juta hektar yang ditetapkan oleh Gubernudari r Kaltim, Awang Faroek Ishak, 40% bibit yang beredar di Pulau Sumatera dan Kalimantan adalah palsu dan tidak dilengkapi dengan dokumen resmi. “ Itu adal

Baharuddin, Ketua Kelompok Tani Sejahtera Desa Kadungan Jaya membawa bibit yang dipesannya dari Malaysia
ah data dan fakta yang tidak didapat dari Badan Intelijen Negara (BIN)” tanda Irsal dalam sambutannya.Menurutnya dengan kebijakan dari Pemerintah khususnya mengenai perkebunan kelapa sawit dan minimnya akses informasi terhadap kecambah/bibit sawit yang baik menyebabkan usaha penyedian bibit sawit menjadi prospek bisnis yang sangat menjanjikan dan sayangnya dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab dengan menyediakan bibit yang tidak jelas sumber asal usulnya sehingga dapat merugikan petani. Hal itulah yang melatarbelakangi kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan dengan tujuan agar menghindarkan petani kebun sawit mengalami kerugian yang lebih besar dikemudian hari.
Kegiatan sosialisasi yang dibuka oleh Kepala UPTD Peredaran Benih Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim, Irsal Syamsa ini dilaksanakan di BPP Kaubun, Desa Bumi Rapak pada tanggal 5 Juli 2012 dengan menghadirkan narasumber baik dari Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur itu sendiri maupun UPTD Peredaran Benih Perkebunan Kaltim. Kegiatan yang diikuti oleh 30 orang yang terdiri dari Petugas Penyuluh Lapangan, Kepala Desa, dan Petani/Penangkar bibit ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang peraturan perbenihan yakni Undang-Undang Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP 44 Tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman serta Pementan No.39/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredarn Benih Bina agar masyarakat dapat mengetahui mana bibit yang resmi dan mana bibit yang tidak resmi (illigitim) yang dikeluarkan oleh sumber benih resmi.
Menurut Agus Suparman,SP, Kasi Pengawasan Mutu Benih yang juga sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut menyampaikan dari beberapa sosialisasi yang telah dilaksanakan oleh instansinya, ternyata terdapat 34 kasus ditemukannya bibit palsu di Se Kaltim dan 7 diantaranya ditemukan Kabupaten Kutai Timur. “Untuk membedakan secara fisik bentuk bibit palsu dan yang tidak palsu memang sangat sulit, yang membedakannya adalah dokumen yang menyertai bibit tersebut. Dan hal ini harus diantisipasi oleh masyarakat petani karena kemasan dan sertifikat serta dokumen pendukung lainnya dapat dibuat sendiri oleh oknum yang tidak bertanggungjawab sehingga dapat terkesan asli” kata Agus Suparman dihadapan peserta kegiatan. Menurutnya untuk membedakan kecambah yang asli maupun yang tidak dapat dilihat dari tatto bertuliskan PPKS yang tercetak pada biji kecambah yang letaknya tidak teratur dan agak timbul tulisannya karena dicetak dengan mesin sehingga bisa jadi tulisan tidak selalu tercetak pada bidang benih yang rata , selain itu bibit yang asli tulisan PPKS bila diusap dengan air tidak hilang. “ Beda dengan yang palsu Tato tulisannya dicetak pada bidang benih yang datar sehingga seragam karena dicetak menggunakan tangan secara manual,selain itu bila kena air tulisan bisa hilang” Kata Agus. Selain itu pada masa produksi nantinya , bibit yang asli bisa menghasilkan TBS hingga 25 -30 ton/ hektar / pertahun beda dengan yang palsu hanya mencapai 10 ton/hektar/pertahun . Hal itu disebabkan karena proses persilangan untuk menghasilkan bibit tidak dilakukan secara benar sehingga dirinya meminta kepada masyarakat petani membeli benih/kecambah dari sumber benih yang resmi. Setidaknya terdapat 10 lembaga /instansi yang mengeluarkan benih resmi di Indonesia seperti PPKS Medan dan Bogor.
Dalam kesempatan itu, seorang petani dari Kelompok Tani Sejahtera Desa Kadungan Jaya, Baharuddin, membawa bibit, sertifikat dan kemasan bibit sawit yang dipesannya dari salah seorang temannya di Sumatera, dan hasilnya dipastikan bahwa bibit tersebut adalah palsu. Dirinya mengaku mendapatkan informasi bibit dari teman /rekan petani sawit yang lain dan telah memesan 10 kotak. “saya memesannya seharga Rp 500.000,- perkotak dan tentu harga yang sangat murah bagi kami dan menurut teman saya itu bibit tersebut asli dari Malaysia” kata Baharuddin. Dirinya juga menyayangkan sosialisasi baru dilaksanakan pada saat ini karena untuk wilayah Kaubun dan sekitarnya kebun kelapa sawit sudah banyak dibuka sejak tahun 2005 dan sebagian besar telah panen . Hal serupa juga dialami oleh Riyanto, salah satu petani di Desa Bumi Etam yang mendapatkan kecambah bibit sawit dari salah satu temannya di Riau. Dirinya mengaku baru menanam 1 hektar dari 4 hektar yang akan direncanakan ditanam pada tahun ini. “ Saya berharap dari pihak BPP Kaubun dapat memfasilitasi dan menyediakan penangkaran bibit sendiri sehingga kami para petani terhindar dari kerugian dikemudian hari “ tambah Riyanto yang di iyakan oleh peserta yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s